Kaya Nikel, Gelap Listrik: Ironi Konawe Utara di Hari Kebangkitan Nasional

4 menit membaca View : 21
Redaksi
Nasional, Opini - 19 Mei 2026

KENDARI, BERITANEGERI.ID – Oleh: Muhamad Ikram Pelesa

Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai simbol lahirnya kesadaran kolektif untuk membangun bangsa yang maju, mandiri, dan berkeadilan. Semangat itu seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni sejarah, melainkan menjadi momen refleksi: apakah pembangunan benar-benar sudah dirasakan merata hingga ke daerah-daerah penghasil kekayaan alam?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika melihat kondisi Kabupaten Konawe Utara. Daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung nikel terbesar di Indonesia itu justru masih menghadapi persoalan mendasar: listrik yang kerap padam.

Ironi ini sulit diterima akal sehat. Dari tanah Konawe Utara, jutaan ton nikel diangkut untuk mendukung hilirisasi industri nasional hingga kebutuhan baterai kendaraan listrik dunia.

Namun di balik gemerlap investasi dan pertumbuhan industri, masyarakat setempat masih hidup dalam ketidakpastian pasokan listrik.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin daerah yang menopang masa depan energi dunia justru belum menikmati kestabilan energi di wilayahnya sendiri?

Daerah Kaya, Infrastruktur Dasar Masih Bermasalah

Sebagai salah satu wilayah strategis dalam rantai industri nikel nasional, Konawe Utara memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Negara memperoleh manfaat melalui ekspor, investasi, hingga pengembangan kawasan industri berbasis hilirisasi. Namun, manfaat itu belum sepenuhnya dirasakan masyarakat lokal.

Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga memukul sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga usaha kecil masyarakat. Aktivitas ekonomi terganggu, produktivitas menurun, dan kualitas pelayanan publik ikut terdampak.

Listrik hari ini bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar masyarakat modern. Ketika listrik terus bermasalah, maka yang terganggu bukan hanya penerangan, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Konawe Utara akhirnya menjadi gambaran nyata ketimpangan pembangunan: kekayaan alam terus diangkut keluar daerah, tetapi infrastruktur dasar belum sepenuhnya hadir untuk rakyatnya.

Nasionalisme Tak Bisa Hanya Dibebankan kepada Daerah

Selama ini, masyarakat Konawe Utara telah menunjukkan kontribusi besar terhadap kepentingan nasional. Mereka hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan, menghadapi kerusakan jalan akibat kendaraan industri, tekanan lingkungan, hingga perubahan sosial yang terus berlangsung.

Namun di tengah situasi itu, masyarakat tetap menjadi bagian penting dari agenda besar Indonesia menuju industri energi masa depan. Di sinilah nasionalisme Konawe Utara sebenarnya diuji. Daerah ini terus menyumbangkan sumber daya alam untuk kepentingan nasional, meski kesejahteraan masyarakatnya belum sepenuhnya terjamin.

Sayangnya, nasionalisme sering kali dimaknai hanya sebagai kewajiban rakyat kepada negara. Padahal, nasionalisme sejati harus berjalan dua arah. Ketika daerah memberikan kontribusi besar bagi bangsa, negara juga wajib menghadirkan pembangunan yang adil bagi daerah tersebut. Pemadaman listrik yang terus terjadi di Konawe Utara menjadi simbol bahwa ketimpangan pembangunan masih nyata.

Hilirisasi Harus Disertai Keadilan Pembangunan

Pemerintah saat ini tengah mendorong hilirisasi nikel sebagai strategi besar ekonomi nasional. Dalam agenda itu, Konawe Utara menjadi salah satu daerah paling strategis.

Namun keberhasilan hilirisasi tidak boleh hanya diukur dari nilai investasi atau pertumbuhan industri semata. Pembangunan harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah penghasil.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, hingga perusahaan-perusahaan tambang perlu membangun komitmen bersama untuk menyelesaikan persoalan listrik di Konawe Utara.

Kebutuhan energi di wilayah ini terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas industri dan pertambangan. Karena itu, penguatan infrastruktur kelistrikan harus menjadi prioritas.

Tidak masuk akal jika daerah penghasil nikel terbesar justru mengalami krisis kestabilan listrik berkepanjangan. Jangan sampai sebagian besar energi hanya diarahkan untuk kepentingan industri, sementara masyarakat sekitar masih hidup dalam gelap.

Perusahaan tambang juga perlu menunjukkan tanggung jawab sosial yang lebih nyata. Program CSR tidak cukup hanya bersifat seremonial, tetapi harus benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses listrik dan infrastruktur publik.

Kebangkitan Nasional Harus Menyala Hingga Konawe Utara

Konawe Utara sejatinya memiliki posisi strategis sebagai simbol baru kebangkitan ekonomi Indonesia. Di tengah tren transisi energi global, nikel menjadi komoditas penting dalam industri kendaraan listrik dan energi masa depan. Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dunia, dan Konawe Utara berada di garis depan momentum tersebut.

Namun kebangkitan nasional tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebangkitan investasi dan industri. Kebangkitan nasional yang sesungguhnya adalah ketika kekayaan alam mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah penghasilnya.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar, tetapi juga di daerah-daerah yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Konawe Utara telah memberi banyak hal untuk Indonesia. Kini saatnya negara menunjukkan keberpihakannya kepada Konawe Utara.

Penutup

Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum evaluasi terhadap keadilan pembangunan di Indonesia.

Konawe Utara adalah contoh nyata bahwa daerah kaya sumber daya alam belum tentu menikmati kesejahteraan yang layak. Di tengah besarnya kontribusi nikel terhadap ekonomi nasional dan industri global, masyarakat masih menghadapi persoalan mendasar berupa listrik yang terus padam.

Jika Indonesia ingin menjadi bangsa besar dalam era industri hijau dunia, maka pembangunan tidak boleh berhenti pada eksploitasi sumber daya dan pertumbuhan investasi semata. Kebangkitan nasional yang sejati adalah ketika daerah seperti Konawe Utara tidak lagi hidup dalam gelap di tengah terang kekayaan alamnya sendiri.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *